Menit menit sia sia
Mengawang awang di langit ketujuh dalam hitungan menit
Lalu sebelum sadar apa yang mendomplengnya naik,
Ia terkapar jijik dengan nikmat sesaat di balik kulitnya sendiri
Karam harga dirinya disedot , ke kegelapan yang terlalu keruh
Gelap yang dengan kuatnya menghisap nurani dan jiwa
Yang dulu bersatu dengan raganya, kini bengkok.
Menit menit asyik menetaskan jutaan detik beku
Sia- sia semuanya sia- sia
Hanya luasnya hamparan malu
Yang menganga jelas di bolong rongga yang terbujur kaku
Sia sia nikmat hitungan menit yang sia –sia
Nista menggerogoti utuh yang seharusnya dijagainya.
Advertisement